Skip to content Skip to main navigation Skip to footer

Polisi Syariah dan Wajah Peradaban Islam

“Abd Azis itu halal darahnya”, “rezim Koplak”, “murtad”, “astaghfirullah, negeri ini sudah tertimpa musibah”, “ini ciri-ciri manusia kerasukan sihir”, jangan-jangan Abd Azis ini (AA) telah mengamalkan isi disertasinya”. Begitulah seabrek statement dari publik di media sosial saat menyikapi disertasi konsep milk al yamin Moh. Syahrur dalam hubungan seksual non marital yang baru dipromosikan dan viral di media online, cetak, dan media tv.

Ada sembilan catatan sebagai urun rembuk atas persoalan ini. Pertama, Penelitian yang dilakukan oleh AA merupakan kegiatan ilmiah sebagai mandat dari Tridharma perguruan tinggi yang berupa penelitian, dan penelitiannya disebut disertasi, karena dia S3 dan dilakukan di akhir masa kuliahnya.

Kedua, judul disertasinya adalah “Konsep Milk al Yamin Moh. Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual Non Marital”. Sepintas judul ini memacu adrinaline pembaca, apalagi sudah diframing oleh media dengan bahasa bombastisnya, karena a) yang dikaji adalah pemikiran Syahrur, yang merupakan sosok kontroversial dalam setiap ide dan gagasannya “Liberal”. b) seksual Non marital, yang sekejap memang bisa diartikan sebagai hubungan seks atas dasar ilegal. b) masyarakat Indonesia masih banyak yang cenderung kagetan.

Ketiga, penelitian AA ini sebenarnya terkategori sebagai penelitian pustaka, dengan kepustakaan sebagai data primernya, yaitu semua karya Syahrur. Sedangkan pendekatannya adalah heremenutika hukum, sesuai dengan pendekatan Syahrur dalam memhami teks al-Qur an. Jadi, sasaran dari penelitian pak AA adalah pemikiran Syahrur yang berkaitan dengan pemahamannya terhadap konsep Milk al Yamin, yang sudah memiliki ekstensi dan derivasi makna yang tidak hanya pada sistem perbudakan, sebagaimana tafsir dan fiqh tradisionalis.

Kelima, penelitian tersebut BUKAN untuk menghasilkan temuan yang berisikan legitimasi hubungan seksual di luar nikah. Tetapi, meneliti pemikiran Syahrur pada konsep Milk al-Yamin, yang tidak hanya diartikan perbudakan, melainkan hubungan non marital atas dasar komitmen untuk esek-esek. (Kalau tidak percaya baca abstrak penelitiannya, jangan cuma pandai bersilat namun kosong literasi!)

Keenam, apa sih non marital? Ini yang menyebabkan viralnya disertasi tersebut. Wahai Pembaca yang budiman, non marital yang dimaksud bukan hubungan seksual yang ujuk-ujuk di luar nikah. Tetapi, hubungan seksual yang berdasarkan nikah muhallil, nikah mut ah, nikah misyar, akad ihsan, yang mana pernikahan semacam itu terdapat ikhtilaf di kalangan ulama’ fiqh (meskipun ada juga nikah al-muskhanah “kumpul kebo” yang secara ittifaq, tidak disepakati). Itulah bentuk-bentuk non-marital yang oleh Syahrur dijadikan derivasi makna atas konsep Milk al Yamin. Bukan seks di luar nikah, atau zina.

Ketujuh, dalam disertasi tersebut juga disebutkan bahwa yang tidak masuk (limitasi) pada Milk al-Yamin versi Syahrur adalah nikah al-maharim, nikah al-mutazawwijah, zina, dan nikah ma nakahal aba. Dengan bukti ini, dapat disimpulkan tidak ada dalam disertasi tersbut yang melegalkan PERZINAHAN sebagai mana yang dituduhkan “polisi syariah”.

Kedelapan, menurut saya, kekurangan AA dalam disertasinya terdapat pada rekomendasi yang ditawarkan, yaitu penelitian Syahrur tersebut diklaim sebagai teori baru, dan bisa dijadikan rujukan untuk pembaruan hukum perdata dan pidana Islam di Indonesia. Padahal, konsep Syahrur itu berdasar pada ‘urf dunia Barat, yang sudah terbudaya oleh kehidupan seksual yang sangat bebas, meskipun bersandar pada Al Qur an. Tidak seperti di Indonesia yang landasan hukum perkawinannya mengacu pada madzahib al-arba’ah, walaupun nikah mut’ah dan nikah muhallil berjalan di Indonesia, sekaligus ada legitimasi juga secara ajaran madzhabnya.

Kedelapan, sebagai penikmat media, kita memang harus hati-hati terhadap kecentilan media dalam mewartakan berita, karena kalau tidak begitu kita bakal termakan oleh moleknya framing dan bahasa yang aduhai.

Demikian tulisan panjang ini, semoga dapat meredam polemik soal “Milk al-Yamin” karena saya khawatir, “milk al-yasar” cemburu, karena tidak diviralkan. Dan yang paling penting, ayo tingkatkan literasi kita, agar potensi asma dan penuaan kita semakin mengecil.

Demikian, terima kasih.

0 Comments

There are no comments yet

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *